tugas 1 – penalaran deduktif

NAMA   : GITHA DWI WULANDARY

NPM      : 23210026

KELAS : 3 EB 17

 

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran deduktif dikembangkan oleh AristotelesThalesPythagoras, dan para filsuf Yunani lainnya dari Periode Klasik (600-300 SM). Aristoteles, misalnya, menceritakan bagaimana Thales menggunakan kecakapannya untuk mendeduksikan bahwa musim panen zaitun pada musim berikutnya akan sangat berlimpah. Karena itu ia membeli semua alat penggiling zaitun dan memperoleh keuntungan besar ketika panen zaitun yang melimpah itu benar-benar terjadi.

Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah, dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat.

Contoh klasik dari penalaran deduktif, yang diberikan oleh Aristoteles, ialah

  • Semua manusia fana (pasti akan mati). (premis mayor)
  • Sokrates adalah manusia. (premis minor)
  • Sokrates pasti (akan) mati. (kesimpulan)

Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum.

Faktor – faktor penalaran deduktif :

  1. Pembentukan Teori
  2.  Hipotesis
  3.  Definisi Operasional
  4.  Instrumen
  5.  Operasionalisasi

Macam – macam penalaran deduktif

  • SILOGISME

Pengertian Silogisme, adalah suatu pengambilan kesimpulan dari dua macam keputusan (yang mengandung unsur yang sama dan salah satunya harus universal), suatu keputusan yang ketiga yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya.

Silogisme Katagorik

Silogisme Katagorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan dengan premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).

CONTOH :

1. Premis mayor : semua cendrakiawan adalah manusia pemikir

S                             P(term mayor)

2. Premis minor : Semua ahli filsafat adalah cendrakiawan

S(term minor)           P(term tengah)

3. kesimpulan    : semua ahli filsafat adalah manusia pemikir

S                                   P

Silogisme Hipotesis

Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.  Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B,  jadwal hukum silogisme hipotesis adalah:

  1. Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
  2. Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
  3. Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
  4. Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.

 

Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotesis :

  • Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:

–  Jika hujan, saya naik becak.

–  Sekarang hujan.

–  Jadi saya naik becak.

  • Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya, seperti:

–  Bila hujan, bumi akan basah.

–  Sekarang bumi telah basah.

–  Jadi hujan telah turun.

  • Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:

–  Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.

–  Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa, Jadi kegelisahan tidak akan timbul.

  • Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti:

–  Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah

–  Pihak penguasa tidak gelisah, jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan

 

Silogisme Alternatif

Bentuk Silogisme Alterantif :

– Memiliki premis mayor dan premis minor.

– Premis mayor menggunakan ungkapan alternatif.

– Premis minor menolak salah satu pilihan.

– Memiliki satu konklusi.

Misal :

Premis mayor   : A atau B

Premis minor    : Bukan A

Konklusi          : B

  • ENTIMEN

Entimen ialah silogisme yang dipendekkan. Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

Contoh :

Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.

 

 

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran_deduktif

www.id.wikipedia.org/wiki/Silogisme

www.wartawarga.gunadarma.ac.id

http://evulee.wordpress.com/2012/03/02/penalaran-deduktif/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s